PERWIRA LPMT Gelar Bedah Buku Lontara Bilang Catatan Harian Raja Bone XXIII La Tenri Tappu

Oleh: H. A. Ahmad Saransi

Buku Lontara Bilang Catatan Harian Raja Bone XXIII La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin (1775–1785) merupakan salah satu dokumen historiografi primer yang sangat berharga dalam sejarah Sulawesi Selatan. Merekam perjalanan pemerintahan selama satu dekade, catatan harian ini menjadi saksi bisu dinamika politik, militer, hingga kehidupan personal sang penguasa.

Catatan harian ini dibuka secara sakral dengan kalimat tauhid: “Lailaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Landasan spiritual ini memperlihatkan betapa nilai-nilai keislaman menjiwai setiap helai pena dan langkah kepemimpinan La Tenri Tappu sejak hari pertama ia mencatat sejarahnya.

Di dalamnya, terekam berbagai peristiwa krusial yang membentuk perjalanan Kesultanan Bone. Dimana catatan diawali dengan masa-masa krisis saat kesehatan Raja Bone XXII, La Temmasonge, mulai menurun hingga beliau wafat. Di usia yang masih sangat muda yakni 18 tahun La Tenri Tappu naik tahta menggantikan La Temmasonge, memikul tanggung jawab besar di tengah situasi kawasan yang penuh tantangan.

Salah satu bagian penting mencatat masa ketika La Tenri Tappu lebih banyak berdomisili di Bontoala. Hal ini mendorong munculnya permintaan serta desakan dari rakyat dan pembesar Kerajaan Bone agar sang raja kembali dan menetap sepenuhnya di tanah Bone demi memperkuat pusat pemerintahan.

Buku ini juga mendokumentasikan konfrontasi militer dan ketegangan politik melawan Kesultanan Gowa, memberikan gambaran mendalam mengenai strategi pertahanan, diplomasi, serta lanskap geopolitik Sulawesi Selatan pada akhir abad ke-18.

Mengingat pentingnya kandungan sejarah dalam naskah ini, Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka (PERWIRA LPMT) melalui rapat pengurus telah memutuskan untuk menyelenggarakan acara Bedah Buku Catatan Harian Raja Bone XXIII La Tenri Tappu pada tanggal 25 September 2026 jam 15.00 di Aulah Masjid Agung Watampone

Kegiatan ini merupakan momentum langka untuk menggali lebih dalam kearifan tradisi keberaksaraan Bugis serta menelusuri jejak kepemimpinan Raja Bone XXIII. Sebuah agenda penting yang sayang untuk dilewatkan bagi para pemerhati sejarah, akademisi, dan pencinta budaya Sulawesi Selatan.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *