Tugu-Tugu Ingatan Operasi Lappo Ase I

Oleh: H. A. Ahmad Saransi

Manusia selalu memiliki naluri purba untuk merawat ingatan, menolak agar detik-detik penting tidak lenyap disapu arus waktu. Ketika sebuah peristiwa besar hadir dan mengubah ritme kehidupan, ingatan kolektif itu dipahat menjadi simbol-simbol nyata, mulai dari batu pualam, nama bangunan, hingga garis nasib seorang anak manusia.

Kisah tentang bagaimana peristiwa besar diabadikan terukir jelas di tanah Sulawesi Selatan pada tahun 1981. Kala itu, deru helikopter dan riuh langkah para pejabat negara mengiringi kehadiran Presiden Soeharto di Desa Paccing, Kecamatan Awampone, Kabupaten Bone. Kehadiran orang nomor satu di Indonesia tersebut membawa sebuah misi agraris penting: mencanangkan Operasi Lappo Ase I, sebuah gerakan swasembada pangan yang memompa semangat kaum tani untuk melipatgandakan hasil bumi. Hari itu, tanah Awampone bergetar oleh janji kemakmuran dan harapan lumbung pangan Nusantara.

Pemerintah dan masyarakat menyadari bahwa momentum bersejarah ini pantang dibiarkan memudar begitu saja. Di Bumi Arung Palakka, rasa syukur dan kebanggaan itu dipadatkan menjadi sebuah monumen ikonik berbentuk seonggok ikatan padi yang menjulang anggun, yang dalam bahasa Bugis luhur dinamai Ase Mabbesse. Tugu ini bukan sekadar beton bisu di pinggir jalan, melainkan metafora abadi tentang kerja keras, kesuburan tanah, dan janji kedaulatan pangan yang pernah dipancangkan sang kepala negara di hadapan para petani Bone.

Gema dari peristiwa 1981 itu juga merambat hingga ke pusat administrasi pangan. Pihak Depot Logistik (Dolog) Sulawesi Selatan turut mematri sejarah dengan mendirikan gedung serbaguna serta wisma megah yang disematkan nama Lappo Ase. Lewat penamaan gedung tersebut, setiap pertemuan dan rapat kerja yang berlangsung di dalamnya selalu dinaungi oleh napas perjuangan swasembada yang sama.

Namun, monumen yang paling hidup dan bernyawa justru lahir dari bilik sederhana rakyat Bone. Tak ingin ketinggalan mengabadikan hari bertuah itu, H. Andi Tipu Petta Wawo yang menyambut kelahiran cucu mereka saat Soeharto mencanangkan operasi tersebut memberikan nama kehormatan bagi sang cucu: Andi Suharto. Bayi yang menangis di tengah keriuhan Paccing itu kini tumbuh membawa tanda zaman di pundaknya. Nama itu menjadi tugu bernyawa, membuktikan bahwa sejarah tak hanya dicatat di atas batu atau dinding beton, melainkan mengalir dalam darah dan denyut nadi masyarakatnya sepanjang masa.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *