LAO SAPPA DECENG, LISU MAPPIDECENG (SEBUAH PERJUMPAAN UNTUK KEMBALI) !

Oleh Andi Buana Raja

Sesungguhnya perjalanan hidup manusia sejati tak lain menyembah Allah Swt. Bermula dari fase alam Ruh yg merupakan sebuah “universum” sepenuhnya sbg kesatuan tunggal persaudaraan ummat manusia. Dlm fase ini, filosofi bugis terungkap sederhana “Seddi Tau” yg ‘semestanya’ tak lain adalah “Ruh-CiptaanNya”.

Selanjutnya, fase alam Rahim “dlmm kandungan ibu”, sebuah poros penciptaan dlm sistem kreativitas Ilahiah yg merupakan persaksian/pengAKUan ttg DIRI MUTLAK ALLAH SWT sbg Ma’bud (Pencipta) dgn diri/pendirian dlm sistem keDIRIan manusia yg bersifat relatif dgn posisi abid (Hamba).

Pada fase ini tentu sj manusia kembali “menyembah” dgn komitment pemihakan (kontrak primer/keutamaan derajat harkat, hak & martabat berbentuk ketundukan mutlak pd pusat sumbu kebenara/kebaikan sekaligus mengAKUi/menerima konsekuensi derajat derajat & harga diri (psikologi/jiwa utama/neutral/karakter dasar) manusia universal “Seddi sumange nibolai”.

Artinya, hanya dlm nurani kebaikan manusia layak menyatu sbg “habits” mulia & saling memuliakan dlm satu ‘rumah’ & segenap isinya/lise/bone’na (kata terakhir adalah diksi makassar).

Dan, fase berikut (sbg pengarusutamaan maksud narasi ini) adalah alam dunia, manusia lahir dgn berbeda-beda rupa “maega rupa tau”.

Sebelum berkembang dgn kompleksitas kehidupan manusia sejagad maka 2 (dua) petilan kalimat ini disatukan sbg suatu senyawa, yakni “SEDDI MI TAU NENNIA MAEGA RUPA TAU” yg menjadi ruang lingkup bg komitmen nurani/mengakar pd sumbu utama yaitu : LAO SAPPA DECENG, LISU MAPPIDECENG dgn lukusan sederhana sbg dasar ‘Mappalisu sumange” atw “Dasar kehadiran bagi perjumpaan citaRasa untuk kembali bsm dlm rumah kebaikan “Bone (isi/lise) pangulu/kendali/kiblat kebaikan” sbg Wanuakku”

Akan halnya dgn itu, msh terdapat 2 (dua) setelah hidup dunia, yaitu alam barzahk & alam akhirat yg tdk dibahas di sini. Sbb, yg menjadi tolok-ukur adalah alam dunia dlm sumbu-epicentrum/watak dasar Tau Bone, yakni “Gelar serupa sajadah bg kebaikan di mana pun berada.

Bahwa, alam dunia itu mengandaikan sebuah “habitus bg tradisi”, yakni kebiasaan meluhur yg akan dilembagakan dlm tradisi atw re-Discoveri (menemukan kembali kebenaran/kebaikan di alam dunia) sbg mata-rantai kebiasaan2 luhur “menyembah” sebelumnya.

Di sini, preposisi awal membuahkan pengertian yg demikian jelas bahwa “Sejengkal pun tubuh melangkah dgn bertumpu cahaya hati meninggalkan tanah Bone maka demi harkat diri & junjungan (PammaseNa PuangNge’) akan kembali menebar martabat kebaikan di mana pun berada sbg wujud komitmen “Tau Bone” : “LAO TO DECENG NNA MAPPIDECENG”

Jadi, sejatinya bahwa orang bone itu meninggalkan kampung halaman meski pun sejengkal itu hanya penanda berpindah batas wilayah/teritori yg telah terdiferensiasi. Namun, dlm pengertian hijrah tak melangkahi sejauh batas psikologinya yang secara substantif berpegang pd falsafah, semangat, identitas/citra diri yg teguh dlm ukuran/derajat kemanusiaan sbg orang bone berharkat & berdedikasi sepenuhnya pd kebenaran/kebaikan universal (Lempu, Deceng, Paccing sibawa Aada Tongeng).

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *