Oleh: Andi Halima Petta Suji
“LAO SAPPA DECENG, LISU MAPPADecENG”
Pergi mencari kebaikan, pulang membawa kebaikan.
Haul ke-312 Raja Bone ke-16, Petta Ta La Patau Matanna Tikka, merupakan momentum penting yang dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan ini bukan sekadar mengenang sosok leluhur, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, kebersamaan, dan persaudaraan para wija atau keturunan Petta Ta La Patau Matanna Tikka yang tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga ke berbagai penjuru dunia.
Motto “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” menjadi pesan moral yang sangat mendalam. Setiap langkah hendaknya diniatkan untuk mencari kebaikan, dan setiap pertemuan hendaknya melahirkan kebaikan yang dapat dibawa pulang serta diteruskan kepada keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.
Dalam kehidupan masyarakat Bugis, hubungan dengan leluhur bukan sekadar hubungan sejarah. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas dan jati diri. Mengenang leluhur berarti mengingat kembali nilai-nilai kebaikan, keteladanan, kebersamaan, dan tanggung jawab yang dapat diwariskan kepada generasi penerus.
Petta Ta La Patau Matanna Tikka merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Bone. Karena itu, haul menjadi momentum untuk terus memperkenalkan sejarah dan nilai budaya kepada generasi muda agar mereka tidak kehilangan akar sejarah dan identitas budayanya.
Haul sebagai Momentum Pemersatu Wija
Kehadiran para wija dari berbagai daerah dalam satu momentum haul merupakan gambaran kuatnya ikatan kekeluargaan. Mereka datang bukan semata-mata untuk berkumpul, tetapi untuk kembali merajut silaturahmi, saling mengenal, saling menghargai, dan memperkuat persaudaraan.
Nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge hendaknya senantiasa menjadi landasan dalam membangun hubungan antarsesama wija.
Sipakatau mengajarkan kita untuk saling memanusiakan.
Sipakalebbi mengajarkan kita untuk saling menghormati.
Sipakainge mengajarkan kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Nilai-nilai tersebut sangat penting untuk terus dihidupkan, terutama di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Merawat Sejarah dan Adat Budaya Leluhur
Haul yang dilaksanakan di Kompleks Makam Raja Bone ke-16, Desa Nagauleng, Kecamatan Cenrana, Watampone, Kabupaten Bone, memiliki makna tersendiri.
Tempat tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjalanan leluhur sekaligus menjadi sarana pendidikan sejarah dan budaya bagi generasi penerus.
Merawat adat dan budaya bukan berarti kita harus hidup di masa lalu. Sebaliknya, kita mengambil nilai-nilai luhur dari masa lalu untuk menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan masa kini dan membangun masa depan.

Karena itu, kegiatan haul hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum ini dapat menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian terhadap sejarah, mendokumentasikan silsilah keluarga, mengenalkan budaya kepada generasi muda, serta membangun berbagai kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng
Motto haul “Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng” mengandung sebuah harapan besar.
Kita datang untuk mencari kebaikan. Kita berkumpul untuk mempererat persaudaraan. Kita mengenang leluhur untuk mengambil hikmah. Dan setelah kembali ke tempat masing-masing, kita membawa semangat kebaikan itu untuk keluarga dan masyarakat.
Inilah makna haul yang sesungguhnya: bukan hanya mengenang siapa leluhur kita, tetapi juga meneruskan nilai-nilai baik yang diwariskan kepada kita.
Haul ke-312 Petta Ta La Patau Matanna Tikka diharapkan menjadi momentum untuk semakin menyatukan hati para wija, memperkuat tali silaturahmi, serta menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjaga adat, budaya, sejarah, dan nilai-nilai luhur leluhur Bugis Bone.
Semoga dari tempat ini lahir semangat baru untuk terus menjaga persaudaraan.
Lao Sappa Deceng, Lisu Mappadeceng.
Pergi mencari kebaikan, pulang membawa kebaikan.
Salam budaya.