Oleh : Ahmad Saransi
Ketika itu suasana hening di kompleks makam Raja Bone ke-16, La Patau Matanna Tikka, sosok Andi Muhammad Sapri Pamulu, Ketua Perkumpulan Wija Raja La Patau (PERWIRA LPMT), tampak menunduk khusyuk di hadapan pusara sang leluhur. Kedua tangannya menengadah ke atas sambil menundukkan kepala, seraya bibirnya bergetar lirih menuntun doa.
Bagi sebagian orang, ziarah mungkin hal biasa. Namun bagi Sapri, nyekar di makam La Patau bukan sekadar penghormatan, melainkan pengakuan batin terhadap asal-usul dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Kita datang bukan untuk meminta, tapi untuk mengingat. Di sinilah akar kebanggaan kita tumbuh,” ujarnya pelan selepas ziarah ketika itu.
Namun, di balik momen penuh makna itu, ada kisah menarik dari balik kamera.
Pemotretan yang dilakukan saat ziarah ternyata tidak mudah. Posisi makam dikelilingi kelambu merah di sisi depan dan samping, menutupi pandangan dan membatasi ruang gerak fotografer. Bagi sang pemotret, ini menjadi tantangan tersendiri: bagaimana menangkap ekspresi ketulusan dan kekhusyukan tanpa mengganggu kesakralan suasana?
Dengan kesabaran dan kejelian, akhirnya fotografer menemukan celah, dari sisi belakang, di mana sinar lembut menembus kelambu. Dari sudut itu, lensa berhasil merekam sosok Sapri yang sedang menunduk dalam diam, wajahnya separuh tertutup bayangan, namun penuh dengan keheningan dan rasa hormat.
Ketika hasil foto itu diperlihatkan Adinda @A. Pallawa “UNGGUNG” Gau teman-teman pun sepakat bahwa gambar tersebut memiliki nilai human interest yang kuat. “Bukan sekadar foto ritual, tapi potret ketulusan,” ujar teman-teman dalam menilai hasil bidikan itu.
Human interest, dalam dunia jurnalisme, adalah pendekatan yang berusaha menyentuh hati pembaca dengan menampilkan sisi manusiawi dari sebuah peristiwa. Dan foto ini berhasil melakukannya: menghadirkan kisah seorang ketua organisasi yang merendah di hadapan leluhur, serta seorang fotografer yang sabar menunggu momen yang berbicara tanpa kata.
Ziarah Sapri Pamulu di makam La Patau Matanna Tikka bukan hanya rekaman budaya, melainkan cermin batin masyarakat Bugis yang senantiasa menghargai leluhur dan memuliakan nilai-nilai kemanusiaan. Di balik kelambu merah dan cahaya lembut itu, tersimpan pesan abadi bahwa kesetiaan terhadap warisan dan ketulusan dalam menghormatinya adalah bagian dari identitas yang tak lekang oleh waktu.
Untuk itu kita perlu menghadiri Haul 331 La Patau Matanna Tikka tanggal 25 Oktober 2025🙏🙏