Oleh : H. Ahmad Saransi
Perhelatan Festival Budaya Bone Riolo yang berlangsung tanggal 23–29 Oktober 2025 telah terselenggara secara apik dan epik. Menjadi penanda bahwa Bone kembali menegaskan dirinya sebagai ruang hidup kebudayaan yang dinamis.
Meskipun rangkaian acara telah usai, pelajaran penting dari festival ini tidak pernah benar-benar selesai. Justru dari sanalah proses belajar bersama dimulai. Banyak hikmah, pengalaman, dan refleksi strategis yang dapat dipetik sebagai bekal menatap perhelatan yang lebih besar di masa depan.

Hal yang paling esensial adalah menjadikan Bone Riolo sebagai alat uji dan instrumen pembelajaran yang mumpuni untuk membangun konsep Gau Maraja Bone 2026 sebagai pesta budaya dan wisata yang lebih spektakuler sekaligus berdampak berkelanjutan, bukan hanya ramai sesaat, tetapi juga memberi jejak manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan daerah.

Dalam rancangan Gau Maraja Bone 2026, kami menawarkan tiga kategori kegiatan utama.
Pertama, event budaya berbasis pertunjukan dan atraksi, yang menampilkan kekayaan ekspresi seni tradisi dan kontemporer masyarakat Bone.

Kedua, event budaya berbasis partisipasi langsung, yang mengajak publik untuk terlibat aktif dalam praktik budaya dan wisata, bukan sekadar menjadi penonton.Ketiga, event berbasis warisan, situs, sejarah, dan kebudayaan Bone, yang menautkan narasi masa lalu dengan pengalaman masa kini dalam satu lintasan wisata budaya yang utuh.
Untuk menggerakkan seluruh agenda besar tersebut, diperlukan “mesin pemantik” Gau Maraja Bone yang memiliki kemampuan memicu partisipasi individu, kolektif, komunitas, hingga lintas daerah. Tanpa mesin penggerak yang kuat, festival hanya akan menjadi agenda seremonial, bukan gerakan kebudayaan yang hidup dan menular.
Persoalan Gau Maraja Bone 2026 sejatinya tidak semata pada sukses atau tidaknya penyelenggaraan, melainkan pada aneka dampak yang ditimbulkannya. Dampak itu mencakup dampak ganda (ekonomi, sosial, pariwisata, dan pendidikan budaya) serta dampak pengiring (penguatan identitas, jejaring komunitas, dan citra daerah). Karena itu, diperlukan pemahaman yang holistik, progresif, dan komprehensif atas kedua jenis dampak tersebut.
Intinya, kita perlu menginventarisasi seluruh “hasil belajar” dari setiap peristiwa budaya, baik dari Bone Riolo maupun dari Gau Maraja sebelumnya agar setiap pelaksanaan festival ini selalu “naik kelas”, semakin matang dalam tata kelola, semakin luas dampaknya, dan semakin siap menghadapi tantangan dalam lanskap kebudayaan dan pariwisita Indonesia.