Cenrana Menjadi Ibukota Kerajaan Bone manakala La Patau telah resmi memangku mahkota kerajaan Bone menggantikan Arung Palakka pada tahun 1696. La Patau memberikan perhatian khusus Cenrana.
Itulah sebabnya kemudian Cenrana menjadi masyhur karena menjadi istana kerajaan Bone setelah diremajakan kembali karena sudah satu abad lebih sudah dirintis pembangunannya oleh La Tenrirawe Bongkangnge MatinroƩ Ri Gucinna, raja Bone ke-7 (1660-1664). Namun yang dicatat pada akhir abad ke-17, La Patau menaikkan taraf Cenrana sebagai sebagai istana Bone sekaligus Kota yang terpenting pada masa pemerintahannya.

Perintisan kembali istana Cenrana dengan fungsinya yang lebih optimal, Lontara Attoriolong Bone serta dalam Catatan Hariannya, menjelaskan sebagai bagian dari wasiat Arung Palakka sebelum wafat pada tanggal 5 April 1696 M.
Boleh jadi, wasiat itu diberikan oleh Arung Palakka sebagai titipan kearifan politik untuk mengembangkan geopolitik kerajaan Bone di sisi utara yang berbatasan dengan Wajo.
Pemulihan hubungan Wajo dan Bone berada di tangan La Patau, selain karena ia memperhatikan orang-orang Wajo yang bermukim di Ujungpandang, ia pula mempunyai kaitan darah dengan bangsawan Wajo yakni melalui jalur kebangsawanan Tuwa dan Ugi dari ayahnya, La Pakokoe.
Oleh karena itu, pantaslah Ia memberikan perhatian terhadap orang-orang Wajo terutama yang berdiam di Makassar. Itulah sebabnya terbaca dalam kisah kehidupannya yang tertuang di dalam catatan harian yang ditulis oleh beliau sendiri, ia menulis bahwa senantiasa menjadwalkan waktunya secara disiplin dalam sekali sebulan ia berangkat ke Ujuppandang untuk melihat keadaan orang-orang Wajo dalam keadaan baik-baik saja. (MHD)