Di Balik Meja Warkop Kopitan, Menenun Epos Peradaban Agraris Bone

MAKASSAR. 12 Juni 2026, riuh rendah pengunjung warkop lainnya perlahan tersamarkan oleh riuh diskusi di salah satu sudut Warkop Kopitan. Di atas meja yang dipenuhi camilan ‘bakara’, pisang goreng dan cangkir kopi, sebuah cetak biru sejarah besar sedang disusun. Divisi Tim Seminar Internasional Gau Maraja Bone menggelar rapat krusial untuk menentukan arah simposium kebudayaan yang diprediksi akan menjadi salah satu magnet akademik terbesar tahun ini.

Rapat strategis ini dipimpin langsung oleh Dr. Ir. Andi Ilham Samalangi, ST., MT., sosok yang memegang dualitas peran strategis: sebagai Bendahara Umum PERWIRA LPMT sekaligus Dekan Fakultas Teknik Pertambangan & Kebumian (FTPK) Universitas Bosowa. Di bawah kendalinya, jalannya rapat berlangsung taktis dan berbobot.

Bobot akademis pertemuan ini semakin solid dengan kehadiran para begawan pemikir di jajaran Dewan Pakar PERWIRA LPMT, antara lain Prof. Mukhlis Hadrawi dan Dr. Dedi Muliadi.

Kehadiran para pakar ini memastikan bahwa pondasi seminar tidak sekadar kosmetik seremonial, melainkan sebuah eksplanasi ilmiah yang mendalam.

Agenda utama sore hingga malam itu terbilang ambisius: merampungkan daftar pembicara kaliber nasional dan internasional. Berdasarkan hasil investigasi jalannya rapat, tim akhirnya berhasil mengunci nama-nama potensial yang akan diundang.

Satu nama besar yang menjadi target utama adalah Leonardo Andaya, sejarawan ternama sekaligus penulis buku monumental “The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi in the Seventeenth Century”.

Andaya bersama puluhan pembicara nasional lainnya, mereka dijadwalkan akan membedah tema sentral yang sangat provokatif dan kontekstual: “Peradaban Agraris Bone: Jejak Budaya dan Ketahanan Pangan Masa Depan.” Tema ini sengaja diangkat untuk menarik benang merah antara kejayaan agraris masa lalu Bone dengan tantangan krisis pangan global di masa depan.

Atmosfer rapat yang semula formal berubah menjadi jauh lebih semarak dan dinamis menjelang pukul 19.30 WITA. Sebuah kejutan terjadi ketika Hj. A. Murni AL, S.E., M.Hum.


Ketua Panitia Gau Maraja Bone yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone, tiba di lokasi bersama jajaran stafnya.

Rombongan Dinas Kebudayaan ini rupanya baru saja menyelesaikan maraton rapat terpisah dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Begitu bergabung di Warkop Kopitan Plus, diskusi langsung seru dalam arti positif. Perdebatan panjang dan adu argumen yang konstruktif terjadi, khususnya saat menentukan waktu eksekusi acara.

Setelah melalui lobi dan pertimbangan matang terkait kesiapan teknis dan kedatangan tamu asing, sebuah kesepakatan bulat akhirnya dicapai. Forum sepakat menunjuk tanggal 26 – 27 September sebagai hari bersejarah pelaksanaan Seminar Internasional tersebut.

Pertemuan malam itu menyisakan pemandangan yang humanis sekaligus memperlihatkan potret dedikasi yang tinggi. Di penghujung rapat, guratan kelelahan yang luar biasa tidak dapat disembunyikan dari wajah Ibu Hj. Andi Murni dan para stafnya. Dengan tatapan mata yang sayu akibat terkurasnya energi setelah berpindah dari satu rapat dinas ke rapat komunitas lainnya, mereka berpamitan.

Malam yang kian larut, rombongan dari Bone ini harus kembali menempuh perjalanan darat berjam-jam membelah jalanan Trans-Sulawesi menuju Bumi Arung Palakka. Sebuah pengorbanan fisik yang menjadi bukti sahih bahwa Gau Maraja Bone bukan sekadar proyek kerja, melainkan sebuah panggilan pengabdian demi menjaga marwah peradaban. “Jaga kesehatanta Petta Kadis”!

Reportase Andi Ahmad Saransi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *