Yang Tersisa dari Gau Maraja Soppeng 2023

Oleh: H. Ahmad Saransi

Siang itu, Selasa, 18 Juli 2023, gema panggung penutupan Gau Maraja La Patau Matanna Tikka di Kawasan Rumah Adat Sao Mario, Batu-Batu, Kecamatan Marioriawa baru saja usai. Namun, bagi Bupati Soppeng, H. Andi Kaswadi Razak, dan para pengurus Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka (PERWIRA LPMT), momentum budaya itu tidak boleh berhenti sebagai seremonial belaka.

Alih-alih beristirahat, sang Bupati justru mengajak pengurus bergerak menembus malam menuju Umpungeng, sebuah desa di dataran tinggi Soppeng yang berhawa sejuk. Umpungeng bukan sembarang tempat; masyarakat lokal meyakininya secara spiritual dan geografis sebagai Posi Tana atau Titik Tengah Indonesia.

Di tempat yang sakral dan sunyi itulah, sebuah diskusi hangat bergulir. Di bawah langit malam Umpungeng, Pemerintah Daerah Soppeng bersama PERWIRA LPMT melahirkan sebuah gagasan besar yang visioner: Festival Umpungeng 2024.
Festival ini dirancang bukan sekadar pesta rakyat, melainkan sebuah perhelatan berskala besar yang mengawinkan aspek budaya, spiritual, dan pariwisata internasional. Beberapa agenda utama yang sempat dirancang antara lain:

  • Tudang Sipulung Akbar: Pertemuan adat dan musyawarah yang digelar tepat di Titik Tengah Indonesia.
  • Umpungeng Moon & Night Carnival: Perayaan malam hari dengan Festival Sulo atau Lampion yang menerangi ketinggian Soppeng, berpadu dengan karnaval budaya.
  • Sport Tourism: Acara olahraga jalan kaki berskala internasional yang menantang para peserta menuju Puncak Umpungeng sembari menikmati lanskap alam yang memukau.

Pung Dulli (sapaan akrab A. Kaswadi Razak) bahkan telah berkomitmen nyata dengan menyisihkan anggaran khusus dari APBD untuk memastikan mimpi besar ini memiliki fondasi yang kuat untuk dieksekusi pada tahun 2024.
Namun, sejarah mencatat jalan yang berbeda. Hingga masa akhir jabatan H. Andi Kaswadi Razak sebagai Bupati Soppeng berakhir 2025, gagasan megah Festival Umpungeng 2024 tersebut tidak pernah terwujud di dunia nyata. Anggaran yang sudah disisihkan tak sempat terkonversi menjadi lampion yang menyala di langit malam, atau langkah kaki turis internasional di jalanan menanjak Umpungeng.

Kini, apa yang tersisa dari malam penutupan Gau Maraja 2023 di Soppeng?

Yang tersisa adalah sebuah “cetak biru ingatan” dan pekerjaan rumah kebudayaan yang belum selesai. Gau Maraja La Patau Matanna Tikka sukses meninggalkan warisan berupa semangat kolaborasi, namun Festival Umpungeng yang lahir dari rahimnya kini melayang sebagai mitos modern, sebuah potensi pariwisata dan spiritual raksasa yang masih terkunci di titik tengah Nusantara.

Bagi masyarakat Soppeng dan penggiat budaya, narasi ini menjadi pengingat bahwa ide seindah apa pun, jika kehilangan momentum eksekusi di birokrasi, akan tetap tinggal sebagai cerita pengantar tidur di dataran tinggi yang dingin. Gagasan itu ada, anggarannya pernah siap, namun takdir festivalnya masih tertidur di Umpungeng, menunggu siapa pun pemimpin masa depan yang berani membangunkannya kembali.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *